Mbah Priok

Imam Syafi’i Ngalap Berkah Dengan Sholat dan Berdo’a Di Sisi Makam Abu Hanifah

Posted on Updated on

MUQODDIMAH

Sengketa lahan di area pemakaman Mbah Priok alias Habib Hasan bin Muhammad al Haddad, Koja, Jakarta Utara, Rabu (14/4), berubah menjadi pertikaian berdarah. Lebih dari seratus orang, baik dari warga maupun petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polisi mengalami luka-luka.

Mbah Priok dikenal sebagai penyebar ajaran agama Islam di tanah Batavia, pada abad ke-18. Sosoknya begitu dihormati, sehingga kerap kali umat Islam berziarah ke makamnya. Rasa hormat warga terhadap sosok karismatik Mbah Priok laksana bensin dan percikan api yang mudah terbakar apabila tokoh yang mereka hormati direndahkan.

Demikian sekilas berita yang hangat baru-baru ini terjadi. Kita semua menyayangkan aksi itu terjadi. Tragedi itu harus diambil pelajaran agar jangan sampai terulang kembali dalam sejarah Indonesia. Caranya adalah dengan melakukan pencerahan dan pemahaman kepada masyarakat dan para tokoh.

Dari tragedi tersebut terdapat pelajaran yang sangat penting sekali, yakni bahwasannya sedemikian kuatnya sikap berlebih-lebihan mayoritas kaum muslimin kepada kuburan yang dikeramatkan, sehingga mereka rela mengorbankan jiwa guna mempertahankannya. Bagaimanakah sebenarnya hukum ‘ngalap’ berkah dengan kuburan?! Inilah yang akan kita bahas dalam kajian kita melalui sebuah kisah tak nyata tentang Imam Syafi’i rahimahullah. Baca entri selengkapnya »

Sebab-Sebab Terjadinya Pengkultusan Kuburan [2/2]

Posted on Updated on

  • Sholat dan berdoa di kuburan.
kuburan

Keyakinan lainnya yang amat aneh adalah berpendapat bahwa sholat dan berdoa dikuburan jauh lebih baik daripada di masjid, bahkan berasumsi lebih cepat terkabul. Yang lebih celaka lagi adalah meminta kepada si penghuni kubur. Ini sudah merupakan kesyirikan yang diperbuat oleh umat jahiliyah dulu. Jangan untuk sholat di kuburan, sholat mengarah kuburan saja sudah haram hukumnya. Artinya tidak boleh sholat di tempat yang di arah kiblatnya terdapat kuburan. Apalagi sholat ditempat yang dikelilingi kuburan. Diantara perbuatan dalam sholat adalah duduk, maka dudukpun dilarang di kuburan. Maksudnya di tempat tanah perkuburan, mekipun tidak persis di atas kuburan benar. Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi,

عَنْ أَبِى مَرْثَدٍ الْغَنَوِىِّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّه صلى الله عليه وسلم « لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا ». رواه مسلم

Dari Abu Martsid Al Ghanawy, telah bersabda Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Janganlah kamu duduk di atas kuburan dan jangan pula sholat menghadapnya.” Baca entri selengkapnya »

Sebab-Sebab Terjadinya Pengkultusan Kubur [1/2]

Posted on Updated on

kuburan

Segala puji dan syukur kita ucapkan pada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Selawat dan salam buat nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah menjelaskan tauhid dengan segala sendi dan cabang-cabangnya serta hal-hal yang membatalkannya.

Pada kesempatan kali ini kita ingin membahas tentang hal yang dominan dalam menyebabkan timbulnya kesyirikan di tengah-tengah umat manusia. Yaitu pengkultusan terhadap kuburan nenek moyang dan orang shaleh.

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan firman Allah,

{وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا} [نوح/23]

“Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr. (QS. Nuh: 23).

“Ini adalah nama orang-orang shaleh dari kaum nabi Nuh ‘alaihisallam. Tatkala mereka meninggal, setan mewahyukan kepada kaum mereka untuk membuat patung ditempat-tempat duduk mereka, lalu mereka menamai dengan nama-nama mereka. Maka kaum mereka melakukannya, dan ketika itu masih belum disembah. Sampai suatu ketika mereka (orang-orang yang melakukan hal tesebut) meninggal dan terhapuslah ilmu lalu dijadikanlah patung-patung itu untuk disembah[1].” Baca entri selengkapnya »