Muharram

Menepis Tuduhan Keji Terhadap Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha

Posted on

Pertarungan antara haq dan bathil terus berlangsung hingga hari kiamat. Kebenaran dan kebatilan memiliki penyeru dan pembela masing-masing. Penyeru kebenaran berusaha menyelamatkan umat dan membawanya ke jalan yang lurus agar mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat, sedangkan penyeru kebatilan berusaha menyesatkan dan merusak umat agar mereka celaka.

Tidak henti-hentinya para penyeru kebatilan menyesatkan umat dengan segala cara, termasuk kebohongan-kebohongan yang merupakan modal utama mereka dari masa ke masa. Tidak segan-segan mereka melontarkan kebohongan-kebohongan dan tuduhan-tuduhan dusta kepada manusia-manusia terbaik dari umat ini, bahkan kepada para ibunda kaum mukminin para pendamping Sayyidil Mursalin di dunia dan di akhirat, termasuk Aisyah ash-Shiddiqoh binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha wanita yang paling banyak menukil Sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini.

Tuduhan-tuduhan dusta keapda Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha senantiasa mereka sebarkan sejak para pendahulu mereka dari kaum munafikin hingga para penerus mereka pada hari ini dari musuh-musuh sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara penyambung lidah kotor mereka adalah seseorang yang bernama Yasir bin Abdullah al-Habib yang mendaur ulang kebohongan, cercaan dan cacian terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha didalam sebuah ceramahnya yang dikemas di dalam perayaan kematian Aisyah bulan Ramadhan yang lalu (tahun 1431 H/2010 M) di London. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Saatnya Kembali ke Kalender Hijriyyah Kalender Umat Islam

Posted on Updated on

kalender-hijriyah

Kalender hijriyyah adalah kalender umat Islam. Semua syariat Islam yang berhubungan dengan hari, pekan, bulan dan tahun, patokannya adalah kalender hijriyyah. Bagaimana kalender hijriyyah ini berawal ? hal ini tidak bisa terlepas dari perjalanan panjang kalender Arab pra Islam.

KALENDER ARAB PRA-ISLAM

Sebelum kedatangan Islam, di tanah Arab dikenal kalender berbasis campuran antara bulan (Qomariyyah) dengan matahari (Syamiyyah). Tahun baru mereka selalu berlangsung setelah berakhirnya musim panas, sekitar September.

Nama bulan-bulan dalam kalender Arab adalah : Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadal Ula, Jumadal Akhirah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Setiap bulan diawali saat munculnya hilal, berselang-seling 30 atau 29 hari, sehingga setahun ada 354 hari, 11 hari lebih cepat dari kelander Masehi yang setahunnya 365 hari. Agar kembali sesuai dengan perjalanan matahari dan agar tahun baru selalu jatuh pada awal musim gugur, maka dalam setiap periode 19 tahun ada tujuh buah tahun yang jumlah bulannya 13 (satu tahunnya 384 hari). Bulan interkalasi atau bulan ekstra ini disebut nasi’ yang ditambahkan pada akhir tahun sesudah Dzulhijjah. Baca entri selengkapnya »

Perayaan Tahun Baru Itu Syi’ar Kaum Kuffar [Ketahuilah!]

Posted on Updated on

PERAYAAN TAHUN BARU ITU SYIAR KAUM KUFFÂR

Oleh : Muhammad Abū Salmâ

Tet Tet Tet”, saya mendengar bising suara anak-anak kecil meniup terompet. Bising sekali. Di pinggiran jalan, berjejer panjang para penjual terompet dengan berbagai aksesorisnya mengais rezeki. Saya teringat, ohya… beberapa hari lagi akan masuk pergantian tahun. Subhânallôh, di mana-mana masyarakat tampaknya sedang sibuk mempersiapkan perayaan tahun baru. Mulai dari spanduk, baleho, umbul-umbul, aksesoris dan lainnya. Di perempatan lampu merah, mata saya tertarik dengan sebuah spanduk bertuliskan, ”Muhasabah Akhir Tahun & Istighotsah” bersama ”Gus…”.

Mungkin, penyelenggara acara tersebut berfikir, daripada kaum muslimin berhura-hura pada saat pergantian akhir tahun, lebih baik membuat acara yang Islâmî sebagai alternatif daripada acara hura-hura. Tapi, apa benar bahwa perayaan Tahun baru itu merupakan syiarnya kaum kuffâr?!! Masak hanya merayakan perayaan dan peringatan seperti ini saja dikatakan syiarnya kaum kuffâr?!! Mungkin, demikian pertanyaan yang muncul dari benar para pembaca. Baca entri selengkapnya »

10 Kerusakan Dalam Perayaan Tahun Baru [..maaf kawan, saya hanya mengingatkan..]

Posted on Updated on

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah, Rabb yang memberikan hidayah demi hidayah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga akhir zaman. Manusia di berbagai negeri sangat antusias menyambut perhelatan yang hanya setahun sekali ini. Hingga walaupun sampai lembur pun, mereka dengan rela dan sabar menunggu pergantian tahun. Namun bagaimanakah pandangan Islam -agama yang hanif- mengenai perayaan tersebut? Apakah mengikuti dan merayakannya diperbolehkan? Semoga artikel yang singkat ini bisa menjawabnya.

Sejarah Tahun Baru Masehi

Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM (sebelum masehi). Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Baca entri selengkapnya »

Download Audio | Sejarah Penetapan Kalender Hijriah

Posted on Updated on

kalender-muslim

Menjelang tahun baru masehi, banyak ummat Islam yang latah ikut merayakan perayaan tersebut. Padahal tahun Masehi adalah penanggalan yang berasal dari non-muslim dan perayaannya adalah merupakan hari besar non-muslim. Patutkan ummat Islam mengambil bagian dalam perayaan tersebut?

Ummat Islam memiliki penanggalan Hijriyah yang sepatutnya ummat Muslim merasa mulia dengannya dan tidak perlu terpikat dengan kebudayaan non-muslim termasuk penanggalan mereka. Bahkan hal tersebut dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya serta para sahabat dan ulama Islam dari dahulu hingga sekarang.

Simak kajian yang menjelaskan sejarah penetapan penanggalan Hijriyah berikut, yang nantinya akan diketahui bagaimana sikap terhadap hari raya atau perayaan kaum non-muslim. Baca entri selengkapnya »

Download E-book | Bid’ah-Bid’ah di Bulan Muharram (Bersedih Ala Rafidhoh, Bergembira Ala Nawashib)

Posted on

Diskripsi Singkat: Kesedihan dan ratapan di hari Asyuro dengan menjerit-jerit, menangis, tidak berdandan, tidak makan daging, tidak mengadakan perayaan dan pesta, tidak berakad nikah, istri tidak boleh berhubungan dengan suami, memperbanyak memukul wajah dan dada, mencabik pakaian dll semunya menjadi pemandangan di sebagian negara yang warganya mengaku muslim. Dan pada saat yang sama, sebagian lagi menjadikan hari Asyuro sebagai moment kebahagiaan dan kegembiraan; mereka bercelak, mengecat (mencutek) kuku, melebihkan uang belanja keluarga, memasak masakan diluar kebiasaan dll. Sejauhmanakah kebenaran amalan-amalan tersebut, jawabannya akan dijelaskan dalam risalah singkat ini …. Baca entri selengkapnya »

Aku Ingin Bertaubat, Tetapi…

Posted on Updated on

Aku ingin bertaubat hanya saja dosaku terlalu banyak. Aku pernah terjerumus dalam zina. Sampai-sampai aku pun hamil dan sengaja membunuh jiwa dalam kandungan. Aku ingin berubah dan bertaubat. Mungkinkah Allah mengampuni dosa-dosaku?!

Sebagai nasehat dan semoga tidak membuat kita berputus dari rahmat Allah, cobalah kita lihat sebuah kisah yang pernah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran-pelajaran berharga di dalamnya.

Kisah Taubat Pembunuh 100 Jiwa

Kisah ini diriwayatkan dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinaan Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنّ نَبِيَّ الله – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعينَ نَفْساً ، فَسَأَلَ عَنْ أعْلَمِ أَهْلِ الأرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ ، فَأَتَاهُ . فقال : إنَّهُ قَتَلَ تِسعَةً وتِسْعِينَ نَفْساً فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوبَةٍ ؟ فقالَ : لا ، فَقَتَلهُ فَكَمَّلَ بهِ مئَةً ، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ . فقَالَ : إِنَّهُ قَتَلَ مِئَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فقالَ : نَعَمْ ، ومَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وبَيْنَ التَّوْبَةِ ؟ انْطَلِقْ إِلى أرضِ كَذَا وكَذَا فإِنَّ بِهَا أُناساً يَعْبُدُونَ الله تَعَالَى فاعْبُدِ الله مَعَهُمْ ، ولاَ تَرْجِعْ إِلى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أرضُ سُوءٍ ، فانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ ، فاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ ومَلائِكَةُ العَذَابِ . فَقَالتْ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِباً ، مُقْبِلاً بِقَلبِهِ إِلى اللهِ تَعَالَى ، وقالتْ مَلائِكَةُ العَذَابِ : إنَّهُ لمْ يَعْمَلْ خَيراً قَطُّ ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ في صورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ
– أيْ حَكَماً – فقالَ : قِيسُوا ما بينَ الأرضَينِ فَإلَى أيّتهما كَانَ أدنَى فَهُوَ لَهُ . فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أدْنى إِلى الأرْضِ التي أرَادَ ، فَقَبَضَتْهُ مَلائِكَةُ الرَّحمةِ )) مُتَّفَقٌ عليه .

Dahulu pada masa sebelum kalian ada seseorang yang pernah membunuh 99 jiwa. Lalu ia bertanya tentang keberadaan orang-orang yang paling alim di muka bumi. Namun ia ditunjuki pada seorang rahib. Lantas ia pun mendatanginya dan berkata, ”Jika seseorang telah membunuh 99 jiwa, apakah taubatnya diterima?” Rahib pun menjawabnya, ”Orang seperti itu tidak diterima taubatnya.” Lalu orang tersebut membunuh rahib itu dan genaplah 100 jiwa yang telah ia renggut nyawanya. Baca entri selengkapnya »

Download Audio | Menyingkap Hakikat di Balik Peristiwa Karbala Berdarah

Posted on Updated on

Rekaman kajian yang disampaikan oleh Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat yang menjelaskan tentang MENYINGKAP HAKIKAT DI BALIK PERISTIWA KARBALA yang telah merenggut nyawa cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga kajian yang beliau sampaikan ini bermanfaat sebagai bekal ilmiah memahami bagaimana kejadian Karbala yang sesungguhnya serta membantah klaim para pengikut AGAMA SYI’AH tentang peristiwa tersebut.

Sumber : Kajian.Net dari salafiyunpad.wordpress.com Baca entri selengkapnya »

Keutamaan Puasa Dibulan Muharram

Posted on Updated on

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2]. Baca entri selengkapnya »

Hijrah Kepada Allah dan Rasul-Nya

Posted on Updated on

hijrah
hijrah

Di dalam Risalah Tabukiyah, Imam Ibnul Qoyyim membagi hijrah menjadi 2 macam. Pertama, hijrah dengan hati menuju Alloh dan Rosul-Nya. Hijrah ini hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap orang di setiap waktu. Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari negeri kafir menuju negeri Islam. Diantara kedua macam hijrah ini hijrah dengan hati kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah yang paling pokok.

Hijrah Dengan Hati Kepada Alloh

Alloh berfirman, “Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50)

Inti hijrah kepada Alloh ialah dengan meninggalkan apa yang dibenci Alloh menuju apa yang dicintai-Nya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim) Baca entri selengkapnya »

Semoga Kita Terdorong Melaksanakan Puasa ‘Asyura

Posted on Updated on

sup-buah

Sungguh puasa memiliki keutamaan yang sangat besar bagi pelakunya. Tidakkah engkau mengetahui bahwa puasa adalah rahasia antara hamba dan Rabbnya?!

Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى »

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151)

Bagi orang yang berpuasa juga akan disediakan pintu surga yang khusus untuk mereka. Inilah kenikmatan di akhirat yang dikhususkan bagi orang yang berpuasa. Baca entri selengkapnya »

Muharram (Suro) Bulan Keramat ?

Posted on Updated on

kirab suro kyai slamet

Muharram (Suro) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang tokoh keraton Solo. Bahkan katanya : “Pernah ada yang menyelenggarakan pernikahan di bulan Suro (Muharram), dan ternyata tertimpa musibah!”. Maka kita lihat, bulan ini sepi dari berbagai acara. Selain itu, untuk memperoleh kesalamatan diadakan berbagai kegiatan. Sebagian masyarakat mengadakan tirakatan pada malam satu Suro (Muharram), entah di tiap desa, atau tempat lain seperti puncak gunung. Sebagiannya lagi mengadakan sadranan, berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi aneka lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai kepala kerbau. Mungkin supaya sang ratu pantai selatan berkenan memberikan berkahnya dan tidak mengganggu. Peristiwa seperti ini dapat disaksikan di pesisir pantai selatan seperti Tulungagung, Cilacap dan lainnya.

Acara lain yang menyertai Muharram (Suro) dan sudah menjadi tradisi adalah kirab kerbau bule yang terkenal dengan nama kyai slamet di keraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga Solo dan sekitarnya, bahkan yang jauhpun rela berpayah-payah. Apa tujuannya ? Tiada lain, untuk ngalap berkah dari sang kerbau, supaya rizki lancar, dagangan laris dan sebagainya. Naudzubillahi min dzalik. Padahal kerbau merupakan symbol kebodohan, sehingga muncul peribahasa Jawa untuk menggambarkannya : “bodo ela-elo koyo kebo”. Acara lainnya adalah jamasan pusaka dan kirab (diarak) keliling keraton. Baca entri selengkapnya »

BULAN SURO, Bulan Penuh Musibah dan Kesialan?

Posted on Updated on

Kita saat ini telah berada di bulan Suro. Nama ini begitu populer di kalangan orang Jawa, meskipun tak menutup kemungkinan banyak penduduk Indonesia lainnya yang mengenalnya. Bulan yang dinamakan Suro ini, tak lain adalah bulan Muharram menurut kalender Islam.

Bulan Suro disebut Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram.” (HR. Muslim no. 2812)

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) adalah untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah – Muharram. (Dinukil dari Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, 3/206) Baca entri selengkapnya »

Download Audio | Jangan Salahkan Bulan Suro!

Posted on Updated on

donasi

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut (yang artinya), ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Judul Kajian
Siaran Langsung Interaktif Bedah Buletin At Tauhid (terbit di Yogyakarta tiap Jum’at)

Tema
Jangan Salahkan Bulan Suro
(Buletin At-Tauhid klik webnya di sini) Baca entri selengkapnya »