mujassimah

Nasihat Bagi Kaum Muslimin Tentang Akidah Bahwa Allah itu Maha Tinggi di atas ‘Arsy

Posted on

Artikel ini telah dibaca, di-muraja’ah,
dan diberi masukan oleh: Ust. Dr. Firanda Andirja, MA.

Penulis: Abu Ziyān Johan Saputra Halim, M.HI.
Pimred alhujjah.com, Pengasuh kanal dakwah Telegram: @kristaliman

MUKADDIMAH

Keyakinan bahwa Allah itu Maha Tinggi dan berada di atas, sejatinya merupakan keyakinan yang telah terpatri dalam fitrah kaum muslimin secara umum. Ungkapan-ungkapan mereka yang biasa kita dengar semisal;

“Kita serahkan pada Yang di Atas”…, “Kalau Yang di Atas telah berkehendak”…., dan lain-lain yang semisal,

adalah bukti bahwa sebenarnya hati kita tidak bisa memungkiri keberadaan Allah di atas segenap makhluk. Di samping juga mereka—ketika berdoa dan berharap kepada Allah—kedua tangan serta kepala mereka menengadah ke atas, tidak ke samping, dan tidak ke bawah.

Kita tidak pernah mendengar ungkapan kaum muslimin yang menyatakan; “Kita serahkan saja pada yang tidak di bawah dan tidak di atas”…, atau “Kita serahkan pada Dzat yang ada di mana-mana”… Sungguh kita tidak pernah mendengar yang demikian terucap oleh lisan mereka.

Namun sungguh sangat disayangkan, sebagian tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ary dan memperjuangkan madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ary justru berseberangan dengan keyakinan kaum muslimin tersebut, sekaligus juga berseberangan dengan aqidah Imam Abul Hasan al-Asy’ary, khususnya dalam masalah Sifat Allah, “Istiwaa’” yaitu;

Keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya dan di atas segenap makhluk-Nya tanpa tasybih dan takyif.

* * * Baca entri selengkapnya »

Iklan

Imam Syafi’i Meyakini Bahwa Allah Berada di atas ‘Arsy

Posted on Updated on

Inilah keyakinan para Imam Madzhab dan Ulama Islam sepanjang zaman tentang sifat istiwaa bagi Allah ta’ala .

Imam Syafi’i (wafat 204 H) dan guru senior beliau Imam Malik (wafat 179 H), meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy. Begitu pula Imam Abu Hanifah (wafat 150 H), Imam Ahmad (wafat 241 H), dan para Imam Ahlussunnah lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua.

Inilah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri oleh siapapun yang jujur dan obyektif.

Imam Syafi’i -rahimahullah- pernah mengatakan:

“Makna firman Allah dalam kitab-Nya: [مَنْ فِي السَّمَاءِ] “…Dzat yang berada di atas langit…” (Qs. Al Mulk: 16).. di atas Arsy, sebagaimana Dia firmankan: [الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى] “Allah yang Maha Pengasih itu istawaa di atas Arsy” (QS. Thaha: 5) Baca entri selengkapnya »

Ringkasan Makna Dari Kata “Istawaa”

Posted on Updated on

Ringkasan Makna Istiwa’ Adalah Ma’lum (diketahui)

Telah diriwayatkan dari Al-Imam Malik dan guru beliau Rabi’ah bahwa beliau menjawab apa makna istiwa’, beliau mengatakan bahwa istiwa’ ghairu majhul (ma’lum, sesuatu yang telah diketahui)

Asy-syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘utsaimin rahmatullah alaihi menjelaskan bahwa istiwa’ ma’lum dari tinjauan Bahasa arab -yang mana Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan para sahabat yang mereka berbahasa dengan bahasa Arab.

Istiwa’ sendiri memiliki beberapa makna dalam bahasa Arab, yaitu maknanya disesuaikan kondisi kata istiwa’ itu sendiri, apakah dimutlakkan atau di taqyid (diikat) dengan huruf yang mengiringinya. Baca entri selengkapnya »