Suro

Keutamaan Hari Asyura (10 Muharram)

Posted on Updated on

Keutamaan Hari Asyura
Oleh: Tim Daar al-qosim

Penerjemah: Abu Ahmad Fuad Hamzah Baraba’,Lc

Segala puji bagi Allah pemelihara seluruh alam, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi dan Rasul mulia, Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya. Wa ba’du:

Diantara nikmat Allah Ta’ala yang diberikan atas hamba-hamba-Nya, adalah perguliran musim-musim kebaikan yang datang silih berganti, mengikuti gerak perputaran hari dan bulan. Supaya Allah Ta’ala mencukupkan ganjaran atas amal-amal mereka, serta menambahkan limpahan karunia-Nya.

Dan tidaklah musim haji yang diberkahi itu berlalu, melainkan datang sesudahnya bulan yang mulia, yakni bulan muharam. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah  radiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Baca entri selengkapnya »

Iklan

Download Ceramah Agama Islam Seputar Bulan Muharrom

Posted on Updated on

Alhamdulillah, kita berada dipenghujung bulan Dzulhijjah beberapa hari kedepan akan kita masuki –insya Allah- bulan Muharram. Apa saja peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharram ini, Apa saja keutamaan bulan ini dan Amalan apa saja yang disyari’atkan di bulan ini? Disamping itu akan Anda temukan pula penjelasan tentang amalan dan aqidah sebuah kaum yang telah menyimpang jauh dari Islam, yang bahkan dikatakan bahwa mereka telah memiliki agamanya sendiri bukan lagi beragama Islam. Mereka itulah kaum Syi’ah Rafidhah penerus ajaran Ibnu Sauda’ alias Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi.  Insya Allah akan kita dapatkan penjelasan tentang itu semua dalam rangkaian ceramah agama terkait bulan Muharram berikut ini : Baca entri selengkapnya »

Menepis Tuduhan Keji Terhadap Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha

Posted on

Pertarungan antara haq dan bathil terus berlangsung hingga hari kiamat. Kebenaran dan kebatilan memiliki penyeru dan pembela masing-masing. Penyeru kebenaran berusaha menyelamatkan umat dan membawanya ke jalan yang lurus agar mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat, sedangkan penyeru kebatilan berusaha menyesatkan dan merusak umat agar mereka celaka.

Tidak henti-hentinya para penyeru kebatilan menyesatkan umat dengan segala cara, termasuk kebohongan-kebohongan yang merupakan modal utama mereka dari masa ke masa. Tidak segan-segan mereka melontarkan kebohongan-kebohongan dan tuduhan-tuduhan dusta kepada manusia-manusia terbaik dari umat ini, bahkan kepada para ibunda kaum mukminin para pendamping Sayyidil Mursalin di dunia dan di akhirat, termasuk Aisyah ash-Shiddiqoh binti ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anha wanita yang paling banyak menukil Sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini.

Tuduhan-tuduhan dusta keapda Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha senantiasa mereka sebarkan sejak para pendahulu mereka dari kaum munafikin hingga para penerus mereka pada hari ini dari musuh-musuh sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara penyambung lidah kotor mereka adalah seseorang yang bernama Yasir bin Abdullah al-Habib yang mendaur ulang kebohongan, cercaan dan cacian terhadap Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha didalam sebuah ceramahnya yang dikemas di dalam perayaan kematian Aisyah bulan Ramadhan yang lalu (tahun 1431 H/2010 M) di London. Baca entri selengkapnya »

Download Audio | Sejarah Penetapan Kalender Hijriah

Posted on Updated on

kalender-muslim

Menjelang tahun baru masehi, banyak ummat Islam yang latah ikut merayakan perayaan tersebut. Padahal tahun Masehi adalah penanggalan yang berasal dari non-muslim dan perayaannya adalah merupakan hari besar non-muslim. Patutkan ummat Islam mengambil bagian dalam perayaan tersebut?

Ummat Islam memiliki penanggalan Hijriyah yang sepatutnya ummat Muslim merasa mulia dengannya dan tidak perlu terpikat dengan kebudayaan non-muslim termasuk penanggalan mereka. Bahkan hal tersebut dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya serta para sahabat dan ulama Islam dari dahulu hingga sekarang.

Simak kajian yang menjelaskan sejarah penetapan penanggalan Hijriyah berikut, yang nantinya akan diketahui bagaimana sikap terhadap hari raya atau perayaan kaum non-muslim. Baca entri selengkapnya »

Download E-book | Bid’ah-Bid’ah di Bulan Muharram (Bersedih Ala Rafidhoh, Bergembira Ala Nawashib)

Posted on

Diskripsi Singkat: Kesedihan dan ratapan di hari Asyuro dengan menjerit-jerit, menangis, tidak berdandan, tidak makan daging, tidak mengadakan perayaan dan pesta, tidak berakad nikah, istri tidak boleh berhubungan dengan suami, memperbanyak memukul wajah dan dada, mencabik pakaian dll semunya menjadi pemandangan di sebagian negara yang warganya mengaku muslim. Dan pada saat yang sama, sebagian lagi menjadikan hari Asyuro sebagai moment kebahagiaan dan kegembiraan; mereka bercelak, mengecat (mencutek) kuku, melebihkan uang belanja keluarga, memasak masakan diluar kebiasaan dll. Sejauhmanakah kebenaran amalan-amalan tersebut, jawabannya akan dijelaskan dalam risalah singkat ini …. Baca entri selengkapnya »

Download Audio | Menyingkap Hakikat di Balik Peristiwa Karbala Berdarah

Posted on Updated on

Rekaman kajian yang disampaikan oleh Al Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat yang menjelaskan tentang MENYINGKAP HAKIKAT DI BALIK PERISTIWA KARBALA yang telah merenggut nyawa cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semoga kajian yang beliau sampaikan ini bermanfaat sebagai bekal ilmiah memahami bagaimana kejadian Karbala yang sesungguhnya serta membantah klaim para pengikut AGAMA SYI’AH tentang peristiwa tersebut.

Sumber : Kajian.Net dari salafiyunpad.wordpress.com Baca entri selengkapnya »

Keutamaan Puasa Dibulan Muharram

Posted on Updated on

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah (puasa) di bulan Allah (bulan) Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam.“[1].

Hadits yang mulia ini menunjukkan dianjurkannya berpuasa pada bulan Muharram, bahkan puasa di bulan ini lebih utama dibandingkan bulan-bulan lainnya, setelah bulan Ramadhan[2]. Baca entri selengkapnya »

Hijrah Kepada Allah dan Rasul-Nya

Posted on Updated on

hijrah
hijrah

Di dalam Risalah Tabukiyah, Imam Ibnul Qoyyim membagi hijrah menjadi 2 macam. Pertama, hijrah dengan hati menuju Alloh dan Rosul-Nya. Hijrah ini hukumnya fardhu ‘ain bagi setiap orang di setiap waktu. Macam yang kedua yaitu hijrah dengan badan dari negeri kafir menuju negeri Islam. Diantara kedua macam hijrah ini hijrah dengan hati kepada Alloh dan Rosul-Nya adalah yang paling pokok.

Hijrah Dengan Hati Kepada Alloh

Alloh berfirman, “Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50)

Inti hijrah kepada Alloh ialah dengan meninggalkan apa yang dibenci Alloh menuju apa yang dicintai-Nya. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim) Baca entri selengkapnya »

Semoga Kita Terdorong Melaksanakan Puasa ‘Asyura

Posted on Updated on

sup-buah

Sungguh puasa memiliki keutamaan yang sangat besar bagi pelakunya. Tidakkah engkau mengetahui bahwa puasa adalah rahasia antara hamba dan Rabbnya?!

Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى »

“Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151)

Bagi orang yang berpuasa juga akan disediakan pintu surga yang khusus untuk mereka. Inilah kenikmatan di akhirat yang dikhususkan bagi orang yang berpuasa. Baca entri selengkapnya »

Muharram (Suro) Bulan Keramat ?

Posted on Updated on

kirab suro kyai slamet

Muharram (Suro) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang tokoh keraton Solo. Bahkan katanya : “Pernah ada yang menyelenggarakan pernikahan di bulan Suro (Muharram), dan ternyata tertimpa musibah!”. Maka kita lihat, bulan ini sepi dari berbagai acara. Selain itu, untuk memperoleh kesalamatan diadakan berbagai kegiatan. Sebagian masyarakat mengadakan tirakatan pada malam satu Suro (Muharram), entah di tiap desa, atau tempat lain seperti puncak gunung. Sebagiannya lagi mengadakan sadranan, berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi aneka lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai kepala kerbau. Mungkin supaya sang ratu pantai selatan berkenan memberikan berkahnya dan tidak mengganggu. Peristiwa seperti ini dapat disaksikan di pesisir pantai selatan seperti Tulungagung, Cilacap dan lainnya.

Acara lain yang menyertai Muharram (Suro) dan sudah menjadi tradisi adalah kirab kerbau bule yang terkenal dengan nama kyai slamet di keraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga Solo dan sekitarnya, bahkan yang jauhpun rela berpayah-payah. Apa tujuannya ? Tiada lain, untuk ngalap berkah dari sang kerbau, supaya rizki lancar, dagangan laris dan sebagainya. Naudzubillahi min dzalik. Padahal kerbau merupakan symbol kebodohan, sehingga muncul peribahasa Jawa untuk menggambarkannya : “bodo ela-elo koyo kebo”. Acara lainnya adalah jamasan pusaka dan kirab (diarak) keliling keraton. Baca entri selengkapnya »

BULAN SURO, Bulan Penuh Musibah dan Kesialan?

Posted on Updated on

Kita saat ini telah berada di bulan Suro. Nama ini begitu populer di kalangan orang Jawa, meskipun tak menutup kemungkinan banyak penduduk Indonesia lainnya yang mengenalnya. Bulan yang dinamakan Suro ini, tak lain adalah bulan Muharram menurut kalender Islam.

Bulan Suro disebut Syahrullah (Bulan Allah)

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yaitu Muharram.” (HR. Muslim no. 2812)

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) adalah untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah – Muharram. (Dinukil dari Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, 3/206) Baca entri selengkapnya »

Download Audio | Jangan Salahkan Bulan Suro!

Posted on Updated on

donasi

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut (yang artinya), ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Judul Kajian
Siaran Langsung Interaktif Bedah Buletin At Tauhid (terbit di Yogyakarta tiap Jum’at)

Tema
Jangan Salahkan Bulan Suro
(Buletin At-Tauhid klik webnya di sini) Baca entri selengkapnya »

Jangan Lakukan Hajatan Pada Bulan Suro? [heran.com]

Posted on Updated on

nikah-bulan-suro

Bulan Suro –yang dalam Islam dikenal dengan bulan Muharram- terkenal sakral dan penuh mistik di kalangan sebagian orang. Saking sakralnya berbagai keyakinan keliru bermunculan pada bulan ini. Berbagai ritual yang berbau syirik pun tak tertinggalan dihidupkan di bulan ini. Bulan Muharram dalam Islam sungguh adalah bulan yang mulia. Namun kenapa mesti dinodai dengan hal-hal semacam itu?

Bulan Muharram Termasuk Bulan Haram

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. Lihatlah firman Allah Ta’ala berikut (yang artinya), ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.[1]

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Baca entri selengkapnya »

Melestarikan Budaya, Bukan Sekadar Ritual Biasa

Posted on Updated on

Indonesia sebagai sebuah negara muslim terbesar ternyata masih menyimpan sejumlah kebudayaan yang menurut kacamata agama sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai fundamental di dalam Islam. Lihat saja seperti acara Grebeg Suro yang setiap tahunnya selalu berulang di berbagai tempat di tanah air. Acara yang selalu diisi dengan pelepasan sesaji, kapala kerbau, nasi tumpeng atau yang lainnya ini menurut banyak kalangan “hanya sebuah ritual” atau “upaya melestarikan budaya leluhur”.

Padahal apabila setiap muslim mau mengevaluasi kembali dan mencocokkannya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menurut pemahaman yang benar (shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in), pasti mereka akan mendapati dengan jelas penyimpangan yang nyata dari acara-acara tersebut terhadap syari’at yang suci ini.

Grebeg Suro berikut acara pelepasan sesajiannya dengan maksud apa pun adalah pelanggaran yang besar terhadap ajaran Islam. Umumnya para penyelenggara dan peserta berharap kepada Sang Pencipta bahwa dengan acara ini mereka diberi keselamatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta maksud-maksud yang lainnya. Dan tidak sedikit juga -dari mereka- yang mengharapkan hal serupa dari para leluhur??! (KOMPAS 21.1.07).

Ritual lain yang tidak kalah hebat adalah upacara persembahan yang biasanya diadakan selang terjadinya suatu musibah gunung meletus, banjir, atau musibah lainnya, seperti yang terjadi beberapa waktu belakangan ini di Porong Sidoarjo. Alih-alih mencetuskan teknologi mutakhir untuk menghentikan semburan lumpur panas, yang terjadi malah mengadakan upacara pemberian sesaji, sekian ekor kerbau rencananya akan dikurbankan guna menghentikan bencana nasional ini?! Belum lagi acara serupa yang mewarnai upaya pencarian korban penumpang KM Senopati Nusantara, Pesawat Adam Air dan serentetan musibah lainnya. Baca entri selengkapnya »