taklid buta

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Kesembilan [-Habis-]

Posted on Updated on

PRINSIP KESEMBILAN

Akhlaq Yang Mulia Dan Penyucian Jiwa

  • Imam Syafi’i Menyeru akhlak yang mulia

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Hendaklah diketahui bahwa Ahlus Sunnah sejati adalah mereka yang mengamalkan ajaran Islam secara sempurna, baik yang berkenaan dengan aqidah maupun akhlak. Termasuk pemahaman yang keliru: prasangka bahwa sunni atau salafi adalah orang yang merealisasikan aqidah Ahlus Sunnah saja tanpa memperhatikan sisi akhlak dan adab Islam, serta penunaian hak-hak kaum muslimin”[1].

Imam Syafi’i berkata menekankan pentingnya akhlak:

زِيْنَةُ الْعُلَمَاءِ التَّقْوَى وَحِلْيَتُهُمْ حُسْنُ الْخُلُقِ وَجَمَالُهُمْ كَرَمُ النَّفْسِ

“Perhiasan ulama adalah taqwa, mahkota mereka adalah akhlak yang indah, dan keindahan mereka adalah kedermawanan”.[2] Baca entri selengkapnya »

Iklan

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Kedelapan

Posted on

PRINSIP KEDELAPAN

Perhatian Kepada Ilmu Agama

  • Defenisi Ilmu Menurut Imam Syafi’i

Perlu diketahui bahwa setiap ilmu yang dipuji oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan hadits maksudnya adalah ilmu agama, ilmu Al-Qur’an dan sunnah, sekalipun kita tidak mengingkari ilmu-ilmu dunia seperti kedokteran, arsitek, pertanian, perekonomian dan sebagainya.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali berkata: “Ilmu yang bermanfaat adalah mempelajari Al-Qur’an dan sunnah serta memahami makna kandungan keduanya dengan pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in. Demikian juga dalam masalah hukum halal dan haram, zuhud dan masalah hati, dan lain sebagainya”.[1]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i, ilmu yang berfaedah untuk mengetahui kewajiban seorang hamba berupa perkara agama, baik dalam ibadah maupun pergaulannya sehari-hari. Ilmu yang berbicara tentang Alloh dan sifat-sifatNya, serta apa yang wajib bagi dirinya dalam menjalankan perintah Alloh, mensucikan Alloh dari segala kekurangan, ilmu yang demikian berkisar pada ilmu tafsir, hadits dan fiqh”.[2] Baca entri selengkapnya »

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Ketujuh

Posted on

PRINSIP KETUJUH

Membantah Para Penyimpang Agama

Membantah  ahli bathil merupakan tugas yang sangat mulia, bahkan termasuk jihad fi sabilillah bagi orang yang dikarunia ilmu.[1] Syaikhul Islam mengatakan bahwa orang yang membantah ahli bid’ah termasuk orang yang berjihad, sampai-sampai Yahya bin Yahya berkata: “Membela sunnah lebih utama daripada jihad”.[2]

Prinsip mulia telah diterapkan oleh Imam Syafi’i dalam banyak kesempatan sehingga Allah memberikan manfaat yang banyak dengan sebab itu.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata: “Saya tidak mengetahui seorangpun yang lebih berjasa pada Islam pada zaman Syafi’i daripada Syafi’i”. Abu Zur’ah berkata: “Benar Ahmad bin Hanbal. Saya juga tidak mengetahui seorangpun yang lebih berjasa pada Islam di zaman Syafi’i daripada Syafi’i dan seorangpun yang membela sunnah Rasulullah seperti pembelaan Syafi’i dan membongkar kedok para kaum (ahli bid’ah) seperti yang dilakukan oleh Syafi’i”.[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah juga berkata: “Manaqib (keutamaan) Imam Syafi’i dan kesungguhannya dalam mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah serta kesungguhannya dalam membantah orang yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah sangat banyak sekali”.[4] Baca entri selengkapnya »

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Keenam [2/2]

Posted on Updated on

PRINSIP KEENAM

Persatuan Dan Perselisihan

Macam maçam Perselisihan Penurut Imam Syafi’i

Penting sekali bagi kita untuk memahami fiqih ikhtilaf yang telah dijelaskan secara bagus oleh Imam Syafi’i. Beliau berkata:

الاخْتِلاَفُ وَجْهَانِ : فَمَا كَانَ لِلَّهِ فِيْهِ نَصُّ حُكْمٍ أَوْ لِرَسُوْلِهِ سُنَّةٌ أَوْ لِلْمُسْلِمِيْنَ فِيْهِ إِجْمَاعٌ لَمْ يَسَعْ أَحَدًا عَلِمَ مِنْ هَذَا وَاحِدًا أَنْ يُخَالِفَهُ. وَمَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مِنْ هَذَا وَاحِدٌ كَانَ لِأَهْلِ الْعِلْمِ الاجْتِهَادُ فِيْهِ بِطَلَبِ الشُّبْهَةِ بِأَحَدِ هَذِهِ الْوُجُوْهِ الثّلاَثَةِ

“Perselisihan itu ada dua macam, apabila sudah ada dalilnya yang jelas dari Allah dan sunnah Rasul atau ijma’ kaum muslimin maka tidak boleh bagi kaum muslimin yang mengetahuinya untuk menyelisihinya. Adapun apabila tidak ada dalilnya yang jelas maka boleh bagi ahli ilmu untuk berijtihad dengan mencari masalah yang menyerupainya dengan salah satu di antara tiga tadi (Al-Qur’an, sunnah dan ijma’).[1]

Dari penjelasan ucapan Imam Syafi’i di atas, dapat kita simpulkan bahwa perselisihan itu terbagi menjadi dua macam[2]: Baca entri selengkapnya »

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Keenam [1/2]

Posted on

 PRINSIP KEENAM

Persatuan Dan Perselisihan

“Persatuan hati dan persatuan barisan kaum muslimin serta membendung segala celah perpecahan merupakan tujuan syari’at yang sangat agung dan pokok di antara pokok-pokok besar agama Islam. Hal ini diketahui oleh setiap orang yang mempelajari petunjuk Nabi yang mulia dan dalil-dalil Al-Qur’an dan sunnah”.[1]

  • Imam Syafi’i Menyeru Kepada Persatuan

Persatuan adalah sesuatu yang sangat ditekankan dan dianjurkan dalam Islam. Namun perlu diketahui bahwa persatuan di sini adalah persatuan di atas aqidah yang sama, bukan persatuan yang sekadar dalam slogan saja tetapi pada hakekatnya hati mereka bercerai berai. Oleh karenanya, perlu diperhatikan beberapa hal berikut untuk mempersatukan umat: Baca entri selengkapnya »

Prinsip-Prinsip Imam Asy-Syafi’i Dalam Beragama : Prinsip Kelima

Posted on Updated on

PRINSIP KELIMA

Melarang Fanatik dan Takqlid Buta

Fanatik atau dalam bahasa arabnya disebut dengan “Ta’ashub” adalah anggapan yang diiringi sikap yang paling benar dan membelanya dengan membabi buta. Benar dan salahnya, wala’ (loyalitas) dan bara’ (benci)-nya diukur dan didasarkan keperpihakan pada golongan. Fanatik ini bisa terjadi antar kelompok, organisasi, dan madzhab, individu, negara dan sebagainya.

Adapun taklid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dasar dalil atau hujjahnya.[1] Allah telah mencela sikap taklid dalam banyak ayatNya, di antaranya:

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ اْلأَسْبَابُ

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. (QS. Al-Baqarah: 166).

Nah, sekarang bagaimana sikap Imam Syafi’i terhadap taklid dan fanatisme?! Ikutilah penjelasan berikut: Baca entri selengkapnya »

Perbedaan yang Nyata dan Mendasar Antara Taqlid dan Ittiba’

Posted on

taqlid bukan ittiba

Ittiba’ (mengikuti) kebenaran adalah kewajiban setiap manusia sebagaimana Alloh wajibkan setiap manusia agar selalu ittiba’ kepada wahyu yang diturunkan oleh Alloh kepada Rasul-Nya. Alloh jadikan wahyu tersebut sebagai petunjuk bagi manusia di dalam kehidupannya.

Tidak ada yang membangkang kepada perintah Alloh tersebut kecuali orang-orang yang taqlid kepada nenek moyangnya atau kebiasaan yang berlaku di sekelilingnya atau hawa nafsunya yang mengajak untuk membangkang dari perintah AlIoh. Mereka tolak datangnya kebenaran karena taqlid.

Tidak ada satu pun kesesatan kecuali disebabkan taqlid kepada kebatilan yang diperindah oleh iblis sehingga tampak sebagai kebenaran. Inilah sebab kesesatan setiap kaum para rasul yang menolak dakwah para rasul. Inilah sebab kesesatan orang-orang Nashara yang taqlid kepada pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka. Inilah sebab kesesatan setiap kelompok ahli bid’ah yang taqlid kepada pemikiran-pemikiran sesat dan gembong-gembong mereka. Baca entri selengkapnya »

Jangan Hanya Taqlid Buta!

Posted on Updated on

Agama Islam memerintahkan para pemeluknya untuk mengikuti dalil dan tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid (baca: mengekor/membeo) kecuali dalam keadaan darurat (mendesak), yaitu tatkala seorang tidak mampu mengetahui dan mengenal dalil dengan pasti. Hal ini berlaku dalam seluruh permasalahan agama, baik yang terkait dengan akidah maupun hukum (fikih).

Oleh karena itu, seorang yang mampu berijtihad dalam permasalahan fikih, misalnya, tidak diperkenankan untuk bertaklid. Demikian pula seorang yang mampu untuk meneliti berbagai nash-nash syari’at yang terkait dengan permasalahan akidah, tidak diperbolehkan untuk bertaklid.

Mengapa Taklid tidak Diperkenankan?

Agama ini tidak memperkenankan seorang untuk bertaklid pada suatu pendapat tanpa memperhatikan dalilnya. Hal ini dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: Baca entri selengkapnya »