Skip to content

Penjelasan Kaidah Dalam Memahami Tauhid Dan Syirik [1]

Desember 23, 2010

Berkata Syaikh Sholih Al-Fauzan -hafizhahulloh-

Segala puji hanya bagi Alloh -subhanahu wa ta’ala- shalawat dan salam semoga tetap tercurah atas nabi kita Muhammad -shallAllohu’alaihi wa sallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Amma ba’du;

Ini adalah Syarah Qawaidul Arba’ yang dikarang oleh syaikul Islam Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-. Karena aku melihat tidak ada orang yang mensyarahnya, maka aku ingin mensyarahnya sesuai dengan kekuatan dan kemampuanku. Mudah-mudahan Alloh -subhanahu wa ta’ala- mengampuni kekuranganku didalamnya.

Berkata mu’allif (pengarang) -rahimahullah- :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة وأن يجعلك مباركا أينما كنت وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.

Aku meminta kepada Alloh yang Maha Mulia, Rabbnya ‘Arsy yang agung untuk melindungimu di dunia dan akherat serta menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, juga menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.[1]


[1] SYARAH (PENJELASAN) :

Qawaidul arba’ yang dikarang oleh Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul wahhab -rahimahullah- ini adalah risalah yang tersendiri, akan tetapi dicetak bersama “Tsalasatul Ushul” karena kebutuhan risalah tersebut agar berada di tangan-tangan penuntut ilmu.

Qawaid adalah bentuk jamak dari Qaidah. Sedangkan qaidah adalah pokok yang mempunyai cabang atau masalah yang banyak.

Kandungan empat kaidah yang disebutkan oleh Asy syaikh -rahimahullah- ini adalah mengenal tauhid dan syirik.

Apa kaidah di dalam tauhid? Dan apa kaidah di dalam syirik? Karena mayoritas manusia rusak dalam dua perkara ini, rusak dalam makna tauhid, apa itu (tauhid)? Dan mereka rusak dalam makna syirik, semua (orang) menafsirkan keduanya sesuai dengan hawa nafsunya masing-masing.

Akan tetapi, yang wajib bagi kita adalah mengembalikan kaidah tersebut kepada al qur’an dan sunnah, agar kaidah ini menjadi kaidah yang benar dan selamat yang diambil dari kitab Allah -subhanahu wa ta’ala- dan sunnah Rasul-Nya -shallallahu’alaihi wa sallam-, terutama dalam dua perkara besar ini, yakni tauhid dan syirik.

Syaikh -rahimahullah- tidak menyebutkan kaidah ini dari diri atau pikirannya sendiri, sebagaimana hal tersebut dilakukan oleh mayoritas orang-orang yang rusak, tetapi kaidah ini diambil dari Kitabullah, sunnah Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- serta sejarah beliau -shallallahu’alaihi wa sallam-.

Jika kamu telah mengetahui kaidah ini dan memahaminya, maka akan mudah bagimu setelah itu mengenal tauhid yang Allah -subhanahu wa ta’ala- mengutus dengannya para Rasul-Nya dan menurunkan dengannya kitab-kitab-Nya, serta mengenal syirik yang Allah -subhanahu wa ta’ala- memperingatkan darinya, juga menjelaskan bahaya dan kerugiannya didunia dan akherat. Ini adalah perkara yang sangat penting dan itu lebih wajib atasmu daripada mengetahui hukum-hukum shalat, zakat, dan ibadah-ibadah serta seluruh perkara duniawiyah, karena hal ini adalah perkara yang paling utama dan mendasar. Sedangkan shalat, zakat, haji dan selainnya –dari perkara ibadah- tidaklah sah jika tidak dibangun diatas pondasi aqidah yang benar yaitu tauhid yang murni kepada Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Sungguh Syaikh -rahimahullah- telah memberikan muqaddimah untuk Qawaidul ‘arba’ah ini dengan mukaddimah yang agung yang didalamnya terdapat do’a bagi pencari ilmu dan peringatan atas apa-apa yang akan mereka ucapkan. Ketika beliau -rahimahullah- berkata :

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة وأن يجعلك مباركا أينما كنت وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة

“Aku meminta kepada Allah yang Maha Mulia, Rabbnya ‘arsy yang agung untuk melindungimu di dunia dan akherat serta menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, juga menjadikanmu termasuk orang yang jika diberi bersyukur, jika mendapat ujian bersabar, serta jika berdosa beristighfar, maka sesungguhnya tiga hal itu adalah tanda-tanda kebahagiaan.”.

Ini adalah mukaddimah yang agung. Padanya ada do’a dari Syaikh -rahimahullah- bagi setiap pencari ilmu yang mempelajari aqidahnya dan menginginkan –dari hal tersebut- kebenaran, serta menjauhi kesesatan dan kesyirikan. Sesungguhnya dia pantas untuk mendapat pelindungan Allah -subhanahu wa ta’ala- di dunia dan akherat.

Jika Allah -subhanahu wa ta’ala- melindunginya di dunia dan akherat maka tidak ada jalan bagi kejelekan untuk sampai kepadanya, tidak pada agamanya dan tidak pula pada dunianya. Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ

“Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir pelindungnya adalah syaitan.” (Al Baqarah : 257)

Apabila allah -subhanahu wa ta’ala- melindungimu, (maka Dia) akan mengeluarkanmu dari kegelapan, yakni kegelapan syirik dan kekufuran, keragu-raguan, serta penyimpangan menuju cahaya iman dan ilmu yang bermanfaat, serta amalan shalih.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ

“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.” (Muhammad : 11)

Jika Allah -subhanahu wa ta’ala- melindungimu dengan pemeliharaan, taufiq, serta petunjukNya di dunia dan di akherat, maka kamu akan berbahagia dengan kebahagiaan yang tiada celaka selamanya. Di dunia Dia akan menolongmu dengan hidayah taufiq, serta berjalan diatas manhaj yang selamat. Diakherat Dia akan menolongmu dengan memasukkanmu kedalam surga-Nya dan kekal di dalamnya, dimana tiada rasa takut, sakit, celaka dan tua serta ketidakenakan. Ini merupakan pertolongn Allah -subhanahu wa ta’ala- kepada hambaNya yang beriman di dunia dan di akherat.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :

“dan menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada.”

Bila Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikanmu diberkahi dimanapun kamu berada, maka ini adalah puncak yang dicari. Allah -subhanahu wa ta’ala- menjadikan barokah pada usia, rezeki, ilmu, amal, serta keturunanmu. Dimanapun kamu berada dan menghadap, barokah senantiasa menyertaimu, maka ini adalah kebaikan yang besar dan keutamaan dari Allah -subhanahu wa ta’ala-.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :

“Dan menjadikanmu termasuk orang-orang yang jika diberi bersyukur”

Ini berbeda dengan orang yang jika diberi mengingkari nikmat dan menolaknya. Sesungguhnya, mayoritas manusia jika diberi nikmat mereka mengkufuri, mengingkari dan memalingkan pada selain ketaatan kepada Allah -‘azza wa jalla-, sehingga hal itu menjadi sebab kesengsaraannya. Adapun orang yang bersyukur, maka Allah -subhanahu wa ta’ala- akan menambahnya :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu menyatakan “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (Ibrohim : 7)

Allah -subhanahu wa ta’ala- akan menambah keutamaan serta kebaikanNya kepada orang yang bersyukur, jika ingin bertambah kenikmatan [maka syukurilah], dan jika ingin hilang kenikmatanmu maka kufurilah.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :

“Dan jika mendapat ujian bersabar”

Allah -subhanahu wa ta’ala- menguji hambaNya, menguji mereka dengan musibah, tipu daya, serta dengan musuh-musuh dari golongan orang-orang kafir dan munafiqin. Mereka membutuhkan kesabaran, tidak putus asa serta tidak putus harapan dari rahmat Allah -subhanahu wa ta’ala-. Mereka tetap diatas agamanya dan tidak menjauh bersama fitnah, atau menerima fitnah. Bahkan mereka tetap diatas agamanya dan bersabar atas apa yang dijalani dari kesusahan-kesusahan didalamnya. Berbeda dengan mereka yang diuji mengeluh dan marah-marah serta putus asa dari Rahmat Allah -‘azza wa jalla-, maka orang yang demikian akan ditambah dengan cobaan demi cobaan, musibah demi musibah. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- bersabda :

“sesungguhnya jika Allah -subhanahu wa ta’ala- mencintai suatu kaum, (maka Dia akan) menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan, dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan”. “Dan manusia yang paling besar ujiannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisalnya, setelah itu orang yang semisalnya.”

Para Rasul, shiddiqin, dan syuhada’ serta hamba-hamba Allah -subhanahu wa ta’ala- yang mu’min diuji, akan tetapi mereka bersabar. Adapun orang-orang munafiq, sungguh Allah -subhanahu wa ta’ala- menyatakan tentang mereka :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ

“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada ditepi” (Al Hajj : 11)

Yang dimaksud tepi artinya ujung.

فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia kebelakang. Rugilah ia didunia dan diakherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Al Hajj : 11)

Dunia itu tidak selamanya nikmat, mewah, lezat, bahagia dan mendapat pertolongan. Allah -subhanahu wa ta’ala- menggilirkannya diantara para hambaNya. Para sahabat –yang merupakan ummat yang paling mulia- apa yang terjadi pada mereka dari ujian dan cobaan?  Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman :

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (Ali Imran : 140)

Maka, hendaknya seorang hamba menenangkan jiwanya. Jika dia diuji, sesungguhnya hal ini tidak khusus baginya. Wali-wali Allah -subhanahu wa ta’ala- telah mendahului dengan hal tersebut. Hendaknya ia tenangkan jiwanya dan bersabar, serta menunggu jalan keluar dari Allah -subhanahu wa ta’ala-, dan akhir yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.

Berkata Syaikh -rahimahullah- :

“Dan jika berdosa meminta ampun”

Adapun orang yang jika berdosa tidak meminta ampun dan bertambah dosanya, maka celakalah dia –wal iyya’udzu billah-, akan tetapi seorang hamba yang beriman, setiap kali dia berbuat dosa maka dia akan segera bertaubat.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُواْ أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُواْ اللّهَ فَاسْتَغْفَرُواْ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللّهُ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah?” (Ali Imran : 135)

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ

“Sesungguhnya taubat disisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera” (An Nisaa’ : 17)

Arti jahalah itu bukanlah orang yang tidak berilmu, karena orang yang jahil (bodoh) tidak disiksa. Akan tetapi jahalah disini adalah lawan dari hilm (santun). Maka setiap orang yang bermaksiat kepada Allah -subhanahu wa ta’ala- dia adalah jahil, artinya kurang santunnya, kurang akalnya, dan kurang kemanusiaannya. Kadang-kadang ada orang yang alim (berilmu) akan tetapi jahil (bodoh) disisi yang lain, yaitu tidak memiliki kesantunan dan tidak benar dalam perkara tersebut.

“Kemudian mereka bertaubat dengan segera” artinya, setiap kali berbuat dosa mereka minta ampun. Tidak ada seorangpun yang maksum (terjaga) dari dosa, akan tetapi –alhamdulillah– Allah -subhanahu wa ta’ala- membuka pintu taubat. Maka jika seorang hamba berdosa wajib baginya untuk segera bertaubat. Jika dia tidak bertaubat meminta ampun, maka ini adalah tanda-tanda kesengsaraan, bahkan kadang-kadang ada yang putus asa dari Rahmat Allah -subhanahu wa ta’ala-, lalu setan mendatanginya dan berkata kepadanya “Tidak ada taubat bagimu”

Tiga perkara tersebut diatas yakni, jika diberi bersyukur, jika diuji bersabar dan jika berdosa meminta ampun merupakan tanda-tanda kebahagiaan. Barangsiapa yang mencocokinya dia akan mendapatkan kebahagiaan, dan barangsiapa yang terhalang darinya atau sebagiannya, maka dia akan sengsara (celaka).

Baca juga :

From → Belajar Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: