Skip to content

Malam 1.000 Bulan Pasti Hadir, Tidak Perlu Sibuk Mencari Tandanya

Sobat! Hari hari ini banyak dari kaum muslimin yang terobsesi untuk mendapatkan lailatul qadar! Mereka sibuk membicarakan dan mendiskusikan perihal keutamaan Lailatul Qadar. Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui indikasi-indikasi hadirnya lailatul qadar.

Sobat! Percayalah bahwa malam tersebut pasti hadir, anda ketahui tanda tandanya ataupun anda tidak mengetahuinya, anda menyadari kedatangannya ataupun tidak menyadarinya.

Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beri’tikaf dan meningkatkan ibadahnya di malam malam terakhir bulan ramadhan. Sebagaimana beliau juga membangunkan keluarganya untuk bersama sama beribadah di malam-malam tersebut. Baca selanjutnya…

Puasa Ramadhan Tidak Diterima Tanpa Zakat Fitrah?

Ramadhan memasuki babak final, sepuluh hari terakhir yang istimewa. Hati orang-orang yang beriman tertunduk khusyu’ mengharapkan agar ibadah yang dipersembahkannya kepada Rabbul ‘Alamin selama Ramadhan ini diterima. Para penceramah giat memberikan motivasi untuk kembali membakar semangat yang mungkin mulai padam. Diantara amalan besar yang digencarkan adalah perihal Zakatul Fithri atau Zakat Fitrah menurut istilah kita.

Umumnya kita yang telah berusaha tentu akan merasa khawatir jika ternyata apa yang telah kita usahakan tidak mendatangkan hasil yang diharapkan, terlebih lagi jika hasil usaha tersebut menjadi sia-sia. Sebagaimana halnya ibadah Ramadhan, yang menurut sebagian penceramah, tidak diterima atau masih terkatung-katung diantara langit dan bumi selagi belum ditunaikannya Zakat Fitrah.

Tim KonsultasiSyariah.Com pernah mendapatkan pertanyaan tentang hal ini. Berikut ini secara lengkapnya. Baca selanjutnya…

Paket Lailatul Qadar 1438 H

Tanpa terasa 20 hari dari bulan Ramadhan telah berlalu, menyisakan harapan dan penyesalan. Harapan agar semua yang kita persembahkan kepada Allah dari segenap ibadah kita diterima oleh Allah. Penyesalan atas sedikitnya perhatian dan semangat kita dalam mengisi Ramadhan dengan ibadah. Akan tetapi Allah menyediakan sesuatu yang begitu istimewa di penghujung Ramadhan ini, pada sepuluh hari yang terakhir. Allah sediakan sebuah malam yang begitu istimewa yang menjadi buruan orang-orang shalih dan wali kekasih Allah. Itulah malam lailatul qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Siapa yang beribadah di malam yang diberkahi tersebut maka pahalanya sama dengan ibadahnya selama seribu bulan atau kurang lebih 83 tahun. Baca selanjutnya…

Tahapan-Tahapan dalam Mengambil Pelajaran dari Al-Qur’an

Bulan Ramadhan Bulannya Al-Qur’an

Kebiasaan Nabi, para sahabat dan orang-orang shalih terdahulu adalah memperbanyak berinteraksi dengan Al-Qur’an di bulan Ramadan. Oleh karena itu marilah kita jadikan bulan Ramadan ini untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya.

Bentuk Tilawah (Membaca) Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (QS. Fathir: 29). Baca selanjutnya…

[Download Ebook] Fikih Kesehatan Kontemporer Terkait Puasa Ramadhan

Judul buku : “FIKH KESEHATAN KONTEMPORER TERKAIT PUASA DAN RAMADHAN”

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Ringkasan Buku

A.Mengenai suntikan

Perlu diketahui suntikan ada tiga jenis:

  1. Suntikan melalui kulit (Intra cutan) misalnya suntikan Insulin: TIDAK membatalkan puasa
  2. Suntikan melalui otot (Intra muscular) misalnya suntik antihistamin dan beberapa jenis vaksinasi : TIDAK membatalkan puasa
  3. Suntikan melalui pembuluh darah (intra vena) misalnya antinyeri, infus dan vitamin

Baca selanjutnya…

Meningkatkan Kualitas Tidur Siang

7 Cara Meningkatkan Kualitas Tidur Siang

Jangan tidur siang jika insomnia
Tidur siang memang menyehatkan, namun jangan membiasakan diri untuk melakukannya jika Anda menderita insomnia. Sebab hal itu akan memperparah kondisi sulit tidur di malam hari.

Jangan terlalu lama
Tidur siang paling baik dilakukan 25-30 menit saja. Jangan terlalu lama atau terlalu sebentar. Sebab meskipun kurang dari satu jam, tubuh dan pikiran sudah cukup menikmati istirahat.

Tidur siang maksimal
Jika Anda punya waktu panjang, nikmati tidur siang secara maksimal selama 90 menit. Jika Anda bangun di antara waktu 30-90 menit saat tidur siang, pasti kepala akan terasa pusing.

Minum kopi setelah tidur siang
Untuk memaksimalkan kewaspadaan ketika bangun dari tidur siang, nikmati secangkir kopi yang berkafein. Dengan begitu, pikiran akan lebih tajam dan Anda bisa kembali beraktivitas dengan baik.

Jangan tidur setelah makan siang
Setelah makan siang, sebaiknya jalan-jalan terlebih dahulu sebelum tidur. Sebab jika Anda langsung tidur setelah makan, pencernaan bisa terganggu dan tidur siang pun tidak akan nyenyak.

Jangan tidur setelah jam empat sore
Siklus tidur siang paling baik dilakukan antara tengah hari sampai jam empat sore. Jika Anda tidur setelah jam empat, bisa-bisa Anda baru akan terbangun saat matahari sudah terbenam.

Sepuluh menit saja cukup
Jika tidak punya waktu 25 menit untuk tidur siang, sebenarnya 10 menit saja pun cukup. Meskipun tidak benar-benar tidur nyenyak, setidaknya tubuh merasa sedikit puas karena sudah mampu beristirahat sejenak.

Majalah Kesehatan Muslim

Mengenal Imam Besar Masjidil Haram, Syaikh Su’ud bin Ibrahim Asy-Syuraim

“Tidaklah seseorang dikatakan sebagai orang yang termasuk pecinta dan pendengar setia Al-Qur’an Al-Karim, apabila ia tidak mengenal ‘Imam Besar Masjid al-Haram’, atau tidak mengenal suaranya di antara ratusan suara para imam yang ada… walaupun baik, indah dan istimewa suara mereka…. Tidak lain karena bacaan Syaikh Su’ud asy-Syuraim, memiliki khas tersendiri bagi kaum muslimin di timur ataupun barat…. “

Beliau adalah termasuk salah satu imam, qori’ dan khatib Masjidil Haram yang populer lagi masyhur yang memiliki kedudukan tinggi dan didengar (nasihatnya) dikalangan masyarakat muslim. Kedudukan seperti itu merupakan kehormatan istimewa bagi imam-imam Masjidil Haram. Baca selanjutnya…

[Peringatan untuk Kaum LGBT] Kisah Nabiyullaah Luuth ‘alaihissalam dan Kaum yang Melampaui Batas

Nama dan nasab beliau adalah Luuth bin Haaraan bin Taarikh (yaitu Aazar sebagaimana telah disebutkan pada kisah Ibraahiim ‘Alaihissalaam). Dengan begitu, Nabi Luuth adalah putra saudara Nabi Ibraahiim dan keponakannya, karena Ibraahiim, Haaraan dan Naahuur adalah saudara kandung. Nabi Luuth diutus menjadi seorang Nabi pada masa hidup Nabi Ibraahiim, beliau berhijrah dari daerahnya bersama pamannya, Al-Khaliil Ibraahiim untuk kemudian berpisah dengannya menuju ke daerah yang Allah Ta’ala telah perintahkan beliau untuk berdakwah.

Nabi Luuth menetap di daerah yang bernama Saduum (Sodom), sebuah daerah yang menjadi bagian negeri Ghaurzughar. Saduum adalah ibukota negeri tersebut, memiliki tanah yang subur, perdagangan yang banyak dengan beberapa daerah yang masih masuk ke dalam wilayahnya. Namun daerah tersebut memiliki penduduk yang amat fajir, amat kufur dan seburuk-buruknya sifat yang dimiliki oleh manusia pada zamannya, mereka merampok di tengah jalan, mereka mendatangi penyeru kemungkaran dan mereka tidak melarang orang dari kemungkaran yang mereka perbuat, sungguhlah amat buruk perbuatan-perbuatan mereka. Baca selanjutnya…

Fiqih Puasa dari Matan Abi Syuja’ | Bagian 4 : Sunnah Dalam Berpuasa

Setelah sebelumnya dibahas mengenai syarat, rukun dan pembatal puasa, kali ini Muslim.Or.Id melanjutkan dengan pembahasan sunnah puasa atau hal-hal yang dianjurkan saat puasa.

Abu Syuja’ rahimahullah dalam Matan Ghoyatul Ikhtishor atau Matan Al Ghoyah wat Taqrib berkata,

Ada tiga hal yang disunnahkan ketika puasa: (1) menyegerakan berbuka puasa, (2) mengakhirkan makan sahur, (3) meninggalkan kata-kata kotor.

(1) Menyegerakan berbuka puasa

Yang dimaksud di sini adalah ketika matahari telah benar-benar tenggelam, langsung disegerakan waktu berbuka puasa. Dalilnya adalah dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098) Baca selanjutnya…

Panduan Ringkas, Lengkap & Mudah Ibadah Puasa Ramadhan Dari Kitab Al-Wajiiz

الوجيز في الفقه السنّة و الكـــــــتـــاب العزيز

كتـــاب الصيام

Alhamdulillah, dalam beberapa hari kedepan insya Allah kita akan memasuki bulan Ramadhan untuk itu perlu kiranya kita mempersiapkan bekal sebaik-baiknya terutama bekal ilmu tentang ibadah puasa ramadhan. Untuk itu kami hadirkan terejemah dari Kitab Puasa dari Kitab Al-Wajiiz Fil Fiqhis Sunnah wal Kitabil ‘Aziz karya Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi -hafizhahullah-.

Pembahasan yang disajikan dalam kitab ini sangat ringkas dan mudah difahami, insya Allah. Lebih penting dari itu adalah Syaikh membawakan dalil-dalil yang bisa dijadikan hujjah atas setiap point yang beliau sampaikan. Semoga kita bisa mengisi Ramdahan 1435 H ini dengan ibadah yang lebih baik dan lebih sempurna. Baca selanjutnya…

Fiqih Puasa dari Matan Abi Syuja’ | Bagian 3 : Pembatal Puasa

Saat ini kita akan melihat penjelasan selanjutnya dari Abu Syuja’ dalam Matan Al Ghoyah wat Taqrib mengenai pembatal-pembatal puasa yang di mana pembahasan ini dibagi dalam dua seri (-dalam situs muslim.or.id, tapi dalam blog ini kami satukan keduanya untuk memudahkan membacanya-).

Abu Syuja’ rahimahullah menyebutkan,

Yang membatalkan puasa ada 10 hal: (1) segala sesuatu yang sampai ke jauf (dalam rongga tubuh), (2) segala sesuatu yang masuk lewat kepala, (3) segala sesuatu yang masuk lewat injeksi (suntikan) lewat kemaluan atau dubur, (4) muntah dengan sengaja, (5) menyetubuhi dengan sengaja di kemaluan, (6) keluar mani karena bercumbu, (7) haidh, (8) nifas, (9) gila, (10) keluar dari Islam (murtad).

Kita akan menjelaskan hal di atas dari penjelasan para ulama sebagai berikut. Baca selanjutnya…

Fiqih Puasa dari Matan Abi Syuja’ | Bagian 2 : Rukun dan Niat Puasa

Kesempatan sebelumnya Muslim.Or.Id telah mengangkat pembahasan fikih puasa pertama, yaitu mengenai syarat wajib puasa. Kali ini kita akan melihat pembahasan lainnya dari Matan Al Ghoyah wat Taqrib mengenai rukun puasa puasa.

Al Qodhi Abu Syuja’ rahimahullah kembali mengatakan,

Kewajiban puasa (rukun puasa) itu ada empat: (1) niat, (2) menahan diri dari makan dan minum, (3) menahan diri dari hubungan intim (jima’), (4) menahan diri dari muntah dengan sengaja.”

Dari perkataan Abu Syuja’ di atas, intinya ada dua hal yang beliau sampaikan. Orang yang menjalankan puasa wajib berniat dan wajib menahan diri dari berbagai pembatal puasa. Mengenai pembatal puasa tersebut akan dibahas secara khusus pada fikih puasa serial ketiga. Sedangkan kali ini kita akan melihat tentang masalah niat. Baca selanjutnya…

Apa yang Dibaca di Akhir Surat at-Tin?

Setiap selesai membaca surat at-Tin, ada imam yg membaca dg suara pelan, ‘Balaa wa ana ‘ala dzalika minas Syahidin’… apakah ini benar?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Sebagian ulama mengatakan dianjurkan membaca kalimat semacam ini ketika membaca surat tertentu.

An-Nawawi mengatakan,

فصل في آداب تدعو الحاجة إليها – منها : إذا قرأ قوله تعالى : ( إنَّ الله ومَلاَئِكَتِهِ يُصلونَ عَلى النَّبي ) يستحب له أن يقول : صلى الله عليه وسلم تسليماً. ومنها : إذا قرأ : (أليسَ الله بَأحكمِ الحَاكِمين ) (أَليسَ ذَلِكَ بقَادرٍ عَلى أنْ يُحيي الموْتَى ) يُستحب أن يقول : بلى وأنا على ذلك من الشاهدين، وإذا قرأ: ( فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُون ) قال: آمنت بالله . . . وهذا كله مستحب أن يقوله القارئ في الصلاة وغيرها

Pasal, tentang adab yang dilakukan ketika dibutuhkan…

Diantaranya, ketika membaca firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada Nabi…” (QS. al-Ahzab: 56) maka dianjurkan untuk mengucapkan, “Shallallahu ‘alaihi was sallama tasliimaa.” Baca selanjutnya…

[FREE E-BOOK] Buku Saku Ramadhan

Rindu akan Datangnya Ramadhan

Di antara perkataan ulama terdahulu yang menunjukkan kerinduan akan datangnya bulan Ramadhan adalah apa yang diungkapkan oleh Yahya bin Abi Katsir rahimahullah. Beliau mengatakan bahwa salah satu do’a yang dipanjatkan para salaf adalah do’a berikut

“Ya Allah, pertemukan diriku dengan bulan Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku, dan terimalah seluruh amalku di bulan Ramadhan.” [Lathaif al-Ma’arif hlm. 158.]

Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadhan

Ada dua orang sahabat, saling bersaudara, salah seorang di antara mereka lebih bersemangat dibandingkan yang lain, dan akhirnya dia pun memperoleh syahid. Adapun sahabatnya, wafat setahun setelahnya. Baca selanjutnya…

%d blogger menyukai ini: