Skip to content

Antara Cinta Rosul & Maulid Nabi [Apa Hubungannya?]

Februari 14, 2011
tanda tanya

Sebenarnya adakah kaitan antara cinta Rosul dan perayaan maulid, alias hari kelahiran beliau? Pertanyaan ini mungkin terdengar aneh bagi mereka yang kerap merayakannya. Bagaimana tidak, sedang disana dibacakan sejarah hidup beliau, diiringi dengan syair-syair pujian dalam bahasa Arab untuk beliau (yang dikenal dengan nama burdah), yang kesemuanya tak lain demi mengenang jasa beliau dan memupuk cinta kita kepadanya…?

Dalam sebuah muktamar negara-negara Islam sedunia, salah seorang dai kondang dari Saudi yang bernama Dr. Said bin Misfir Al Qahthani, berjumpa dengan seorang tokoh Islam (syaikh) dari negara tetangga. Melihat pakaiannya yang khas ala Saudi, Syaikh tadi memulai pembicaraan[1]:

Syaikh : “Assalaamu ‘alaikum…”

Dr. Said : “Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabaraatuh”

Syaikh : “Nampaknya Anda dari Saudi ya?”

Dr. Said : “Ya, benar”

Syaikh : “Oo, kalau begitu Anda termasuk mereka yang tidak cinta kepada Rosul…!”

(kaget bukan kepalang dengan ucapan Syaikh ini, ia berusaha menahan emosinya sembari bertanya):

Dr. Said : “Lho, mengapa bisa demikian?”

Syaikh : “Ya, sebab seluruh negara di dunia merayakan maulid Nabi e kecuali negara Anda; Saudi Arabia… ini bukti bahwa kalian orang-orang Saudi tidak mencintai Rosulullah e”.

Dr. Said : “Demi Allah… tidak ada satu hal pun yang menghalangi kami dari merayakan maulid Beliau, kecuali karena kecintaan kami kepadanya!”

Syaikh : “Bagaimana bisa begitu??”

Dr. Said : “Anda bersedia diajak diskusi…?”

Syaikh : “Ya, silakan saja..”

Dr. Said : “Menurut Anda, perayaan Maulid merupakan ibadah ataukah maksiat?”

Syaikh : “Ibadah tentunya!” (dengan nada yakin).

Dr. Said : “Oke… apakah ibadah ini diketahui oleh Rosul e, ataukah tidak?”

Syaikh : “Tentu beliau tahu akan hal ini”

Dr. Said : “Jika beliau tahu akan hal ini, lantas beliau sembunyikan ataukah beliau ajarkan kepada umatnya?”

(…. Sejenak syaikh ini terdiam. Ia sadar bahwa jika ia mengatakan: ya, maka pertanyaan berikutnya ialah: Mana dalilnya? Namun ia juga tidak mungkin mengatakan tidak, sebab konsekuensinya Nabi e masih menyembunyikan sebagian ajaran Islam. Akhirnya dengan terpaksa ia menjawab )

Syaikh : “Iya… beliau ajarkan kepada umatnya..”

Dr. Said : “Bisakah Anda mendatangkan dalil atas hal ini?”

(Syaikh pun terdiam seribu bahasa… ia tahu bahwa tidak ada satu dalil pun yang bisa dijadikan pegangan dalam hal ini…)

Syaikh : “Maaf, tidak bisa…”

Dr. Said : “Kalau begitu ia bukan ibadah, tapi maksiat”

Syaikh : “Oo tidak, ia bukan ibadah dan bukan juga maksiat, tapi bidáh hasanah”

Dr. Said : “Bagaimana Anda bisa menyebutnya sebagai bid’ah hasanah, padahal Rosul e mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat??”

Setelah berdialog cukup lama, akhirnya syaikh tadi mengakui bahwa sikap sahabatnyalah yang benar, dan bahwa maulid Nabi yang selama ini dirayakan memang tidak berdasar kepada dalil yang shahih sama sekali.

Ini merupakan sepenggal dialog yang menggambarkan apa yang ada di benak sebagian kaum muslimin terhadap sikap sebagian kalangan yang enggan merayakan maulid Nabi . Dialog singkat di atas tentunya tidak mewakili sikap seluruh kaum muslimin terhadap mereka yang tidak mau ikut maulidan. Kami yakin bahwa di sana masih ada orang-orang yang berpikiran terbuka dan obyektif, yang siap diajak berdiskusi untuk mencapai kebenaran sesungguhnya tentang hal ini.

Namun demikian, ada juga kalangan yang bersikap sebaliknya. Alias menutup mata, telinga, dan fikiran mereka untuk mendengar argumentasi pihak lain. Karenanya kartu truf terakhir mereka ialah memvonis pihak lain sebagai ‘wahhabi’ yang selalu dicitrakan sebagai ‘sekte Islam sempalan’, yang konon diisukan sebagai kelompok yang gampang membid’ahkan, mengkafirkan, mengingkari karomah para wali, dan sederet tuduhan lainnya.

Cara seperti ini bukanlah hal baru. Sejak dahulu pun mereka yang tidak senang kepada dakwah tauhid, selalu berusaha memberikan gelar-gelar buruk kepada para dainya. Tujuannya tak lain ialah agar masyarakat awam antipati terhadap mereka. Simaklah bagaimana Fir’aun dan kaumnya menggelari Musa dan Harun u:

(57) Fir’aun mengatakan: “Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami dengan sihirmu hai Musa? (58) Sungguh kami pasti mendatangkan pula kepadamu sihir semacam itu, maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak pula kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya)”. (59) Musa menjawab: “Waktu pertemuan itu ialah di hari raya dan hendaklah manusia dikumpulkan pada waktu dhuha”. (60) Maka Fir’aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang. (61) Musa berkata kepada mereka: “Celakalah kamu, janganlah kamu mengadakan kedustaan terhadap Allah, hingga Dia membinasakanmu dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (62) Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka, dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). (63) Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kalian dari negeri kalian dengan sihirnya, dan hendak melenyapkan kedudukan kalian yang utama..” (QS Thaha: 57-63).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “Ia (Musa) adalah seorang ahli sihir yang pendusta” (QS Ghafir: 23-24).

Simak pula bagaimana kaum Nabi Luth u hendak mengusir beliau dan para pengikutnya dengan tuduhan ‘orang-orang yang sok menyucikan diri’:

Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan: “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (menda’wakan dirinya) bersih” (QS An Naml: 56).

Atau Nabi Shalih ‘alaihissalaam yang dianggap sombong dan pembohong oleh kaumnya… Allah berfirman:

(23) Kaum Tsamudpun telah mendustakan ancaman-ancaman (itu). (24) Mereka berkata: “Bagaimana kita akan mengikuti saja seorang manusia (biasa) di antara kita? Sesungguhnya kalau begitu kita benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila”, (25) Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya -yakni Nabi Shaleh u– di antara kita? Sebenarnya dia seorang yang amat pendusta lagi sombong”. (26) Kelak mereka akan tahu siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi sombong.(QS Al Qamar: 23-26).

Sampai junjungan kita Rasulullah e pun tak luput dari julukan-julukan buruk kaumnya. Allah berfirman:

(1) Shaad, demi al-Qur’an yang mempunyai keagungan (2) Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (3) Betapa banyaknya ummat sebelum mereka yang telah kami binasakan, lau mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. (4) Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata : “ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta” (QS Shaad: 1-4).

Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru berpihak kepada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih.

Berangkat dari sini, penulis ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk mendudukkan masalah perayaan maulid Nabi, benarkah ia merupakan bid’ah hasanah? Benarkah ia merupakan perwujudan cinta kepada Rosul yang dibenarkan? Apakah asal muasal perayaan ini? dan berbagai masalah lainnya seputar maulid Nabi . Tentunya semua akan disajikan secara ilmiah dengan merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, sesuai dengan pemahaman As Salafus shaleh.


[1] Sebagaimana yang dituturkan sendiri oleh Dr. Said Al Qahthani ketika berkunjung ke kampus kami, Universitas Islam Madinah dan memberikan ceramah di sana.

Sumber : Blog Ust. Sufyan Basweidan -hafizhahullah-

Iklan

From → Belajar Islam

7 Komentar
  1. jambut permalink

    lalu solat taraweh berjamaah juga bidah padahal nabi melaksanakan solat lail bukan solat taroweh

  2. nika wahyuni permalink

    saya semakin bingung dengan perayaan maulid Nabi ini, karena saat ini sudah banyak ornag yang merayakan perayaan Maulid Nabi ini….
    tetapi di sini dijelaskan bahwa Maulid Nabi merupakan bid’ah…..
    saat ini banyak orang tua yang juga merayakan hari kelahiran putra – putri mereka dengan mengadakan slamatan, apakah ini juga termasuk bid’ah????

    • Jangan bingung…
      Yang menjadi standard untuk menilai sesuatu itu benar atau salah bukanlah pada banyaknya pengikut atau orang yang mengamalkan sesuatu perbuatan. Yang menjadi standard adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman dan pengamalan para salafus sholih. Dan perayaan Maulid ini sebagaimana telah dibahas dalam beberapa artikel di sini jelas merupakan sebuah bid’ah.

      Adapun tentang perayaan hari ulang tahun maka ini termasuk bentuk tasyabbuh (menyerupai) terhadap orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan selain mereka.

  3. sudahlah tdk ada yg salah,.. semua benar. tinggal bgaimna kita saling menghormati sesama muslim dlm perbedaan yg memang tdk keluar dari syariat Islam itu aja. di saudi mayoritas imam malik, sedangkan di dunia ni org2 Islam tdk semua ke arah imam malik..

    follow blog me “semoga bermanfaat juga” lam kenal :)

    http://muzaymuzayyanah.blogspot.com

    Semoga Allah memberikan hidayahNya kepada kita… Jika tidak ada yang salah dan semuanya benar, maka sungguh sia-sia Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para Rasul, menjanjikan Surga bagi siapa yang ta’at kepada Allah dan RasulNya dan mengancam dengan Neraka bagi siapa yang kufur. Maha Suci Allah dari perbuatan sia-sia.

    Dalam perbedaan yang terjadi maka sebagai seorang muslim wajib hukumnya bagi kita untuk mengembalikan perbedaan itu kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, apa yang benar menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah maka itulah kebenaran yang wajib untuk diikuti.

    Sedikit koreksi, sejauh yang saya ketahui di Saudi itu mayoritas mengikuti Madzhab Imam Ahmad -rahimahullah-, meskipun demikian mereka -Alhamdulillah- tidaklah terpaku pada madzhab itu saja. Dalam artian, mereka dalam menghadapi permasalahan yang diperselisihkan dikalangan ulama maka mereka mengembalikannya kepda Al-Qur’an dan As-Sunnah. Para ulama di sana meneliti dari masing-masing pendapat yang berbeda hingga kemudian diketahui mana yang lebih mendekati kebenaran, mana yang benar dan mana yang keliru. Inilah metode yang diperintahkan oleh Allah dan RasulNya dan yang telah dijalani oleh ulama kaum muslimin dari masa ke masa.

    Untuk menambah wawasan silakan Anda membaca tulisan tentang permasalahan khilafiyah mana yang boleh kita saling bertoleransi dan mana yang tidak boleh ada toleransi didalamnya namun dengan tetap menjaga adab-adab yang telah diajarkan dalam Islam yang mulia ini. silakan baca di sini.

  4. iyah makasih atas info wawasannya tapi biarlah Alloh yg menghakimi manusia,.itu bagi saya. ketika memang itu diluar Kitab Al-qur’an dan Hadits “syiar wjib ada” tapi tdk utk diperdebatkan mana yg benar dan salah hanya perlu nasehat jika tdk di dengar ya sudah. “saya hanya manusia biasa dan tak punya ilmu apa2 ttg Islam namun setiap sunnah rosul dan perintah Alloh jalankan tanpa banyak bicara,.. yah Alloh sgalanya yg tau bagaimanapun. Wallohualam.

    Barakaallahu fiiki,
    Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, mana yang baik dan mana yang buruk untuk hambaNya. Karena itulah Allah mengutus para Nabi dan Rasul kepada kaumnya masing-masing, dan mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seluruh manusia dan jin untuk menjelaskan jalan-jalan kebaikan dan memerintahkan mereka untuk menempuhnya, dan menjelaskan kepada mereka jalan-jalan keburukan untuk mereka jauhi dan tinggalkan. Maka jadilah kebaikan dan kebenaran itu apa yang datang dari Allah dan RasulNya dan keburukan itu adalah setiap yang menyelisihinya.

    Dan Alhamdulillah, ajaran islam tetap lestari sebagaimana awal pertama kali didakwahkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syi’ar-syi’ar Islam pun tetap lestari semisal : shalat berjama’ah, shalat jum’at, haji, shaum ramdhan dan ibadah-ibadah lainnya. Yang semua syi’ar itu jika kita berusaha untuk melakukan seluruhnya niscaya kita tidak akan memiliki waktu untuk mengamalkan selain apa yang telah dijelaskan itu.

    Akan tetapi, yang sangat disayangkan adalah semakin jauh dari masa kenabian, semakin banyak fitnah dan kesamaran pada sebagian manusia -semoga kita tidak termasuk didalamnya- sehingga sebagian mereka menganggap apa-apa yang bukan merupakan bagian dari ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai ajaran beliau. Di lain sisi, mereka meremehkan bahkan meninggalkan syi’ar-syi’ar yang jelas-jelas merupakan ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Disinilah perlunya kita saling memberikan nasihat, agar amalan-amalan ibadah yang kita kerjakan tetap sesuai dengan apa yang digariskan oleh Allah dan RasulNya. Bukan untuk merendahkan sesama muslim, tapi untuk mengingatkan mereka akan nikmat yang besar berupa kesempurnaan Islam, yang nikmat ini tidaklah diberikan kepada ummat-ummat sebelum kita.

    Semoga dengan nasihat yang sedikit ini kita mau meng-instrospeksi diri, melihat mana-mana amalan kita yang telah sesui dengan sunnah untuk terus kita giatkan dan mana-mana amalan kita yang belum sesuai sunnah untuk kita perbaiki, dan mana amalan-amalan yang menyelisihi sunnah untuk kita tinggalkan. Karena setiap kebaikan itu ada pada setiap hal yang sesuai dengan sunnah, dan setiap keburukan itu ada pada setiap yang menyelsihinya.

  5. abang dani mamad permalink

    pinter sekali anda biarlah anda yg masuk surga sendiri….. bersama teman-teman anda…….. hahahahahaha

Trackbacks & Pingbacks

  1. Tweets that mention Antara Cinta Rosul & Maulid Nabi [Apa Hubungannya?] « Blog Abu Umamah™ -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: